**Kau Pergi Membawa Janji, dan Meninggalkan Aku Bersama Kenangan** Di antara tabir sutra senja, saat lembayung menyentuh permukaan Danau B...

Kisah Populer: Kau Pergi Membawa Janji, Dan Meninggalkan Aku Bersama Kenangan Kisah Populer: Kau Pergi Membawa Janji, Dan Meninggalkan Aku Bersama Kenangan

Kisah Populer: Kau Pergi Membawa Janji, Dan Meninggalkan Aku Bersama Kenangan

Kisah Populer: Kau Pergi Membawa Janji, Dan Meninggalkan Aku Bersama Kenangan

**Kau Pergi Membawa Janji, dan Meninggalkan Aku Bersama Kenangan** Di antara tabir sutra senja, saat lembayung menyentuh permukaan Danau Bulan Sabit, aku melihatmu. Atau, mungkin, aku *hanya* membayangkannya? Siluetmu, bagai lukisan kabut pagi di atas kanvas sutra, perlahan menghilang ditelan kelam. Dulu, di bawah naungan pohon *sakura* yang menari ditiup angin musim semi, kau berbisik janji. Janji yang selembut bulu angsa, sehangat mentari pertama, namun sefana tetesan embun di kelopak bunga. Kau berjanji akan kembali, menabur bintang di malam-malamku yang sepi. Waktu, sang pelukis abadi, terus menggoreskan warna di kanvas hidupku. Musim berganti, dedaunan berjatuhan, dan salju menutupi jejak kakimu. Namun, bayangmu tetap menari di balik kelopak mataku. Kau adalah melodi yang terukir dalam sanubariku, nada *rindu* yang tak pernah usai. Aku mencari jejakmu di antara barisan aksara kuno, di dalam mimpi yang terjalin dari benang-benang perak, di lorong waktu yang berliku. Aku menari bersama bayanganmu di bawah rembulan yang pucat, berharap sentuhan tanganmu terasa nyata. Tapi, yang kurasa hanyalah dinginnya angin malam, dan bisikan sepi yang menggema di hatiku. Apakah kau nyata? Apakah kau benar-benar pernah ada, atau hanya *ilusi* dari hati yang merindukan keabadian? Pertanyaan itu menghantuiku, bagai hantu penasaran yang bergentayangan di istana jiwa. Suatu malam, saat bulan purnama membelah kegelapan, aku menemukan *sebuah kotak musik*. Kotak musik tua, berdebu, dan berukirkan bunga sakura yang layu. Saat kubuka, melodi itu mengalun. Melodi yang sama dengan yang kau nyanyikan di bawah pohon sakura. Dan di dalam kotak itu, *sehelai kain sutra*. Kain sutra yang sama dengan yang kau kenakan saat pertama kali kita bertemu. Di kain itu, terukir sebuah nama... bukan namamu. Nama seorang pangeran yang hilang, yang kabarnya, meninggal di danau bulan sabit seratus tahun lalu. *Dan seketika itu, aku mengerti*. Aku bukan menunggumu kembali dari perjalanan jauh. Aku sedang menunggu keajaiban yang tak mungkin terjadi. Aku sedang merindukan *sebuah mimpi*, sebuah ilusi, sebuah kisah yang tak pernah benar-benar ada. Keindahan itu terungkap, namun luka di hatiku terasa semakin dalam. Di danau itu, seratus tahun yang lalu... aku tenggelam.
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Jualan Online

0 Comments: