**Aku Menunggumu Lahir di Dunia yang Tak Mengenal Air Mata** Hujan turun perlahan di atas Bukit Seribu Kenangan. Setiap tetesnya bagai air mata *sunyi*, membasahi nisan-nisan yang berjajar rapi. Di antara nisan-nisan itu, berdirilah aku, bukan sebagai manusia, melainkan bayangan yang enggan pergi. Aku adalah He Yifan, dan dunia yang pernah kukenal kini hanyalah debu kenangan. Dulu, aku adalah seorang pelukis. Kuas dan kanvas adalah saksi bisu bisikan hatiku. Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan, atau lebih tepatnya, sebuah *kejahatan* yang disamarkan sebagai kecelakaan, merenggut nyawaku. Aku pergi tanpa sempat mengucapkan kebenaran. Kebenaran yang begitu pahit, hingga terasa seperti racun di lidah. Kini, aku terikat di antara dunia hidup dan dunia arwah. Aku melihat mereka, orang-orang yang dulu dekat, kini diliputi duka. Aku mendengar bisikan mereka, sebagian tulus, sebagian penuh kepalsuan. *KEMBALI*, bisik angin malam. *UNTUK APA?*, tanyaku dalam hati. Aku mengikuti langkah seorang wanita, Lin Mei. Dia adalah tunanganku, dan luka di matanya masih begitu segar. Setiap malam, dia datang ke makamku, membawa bunga lili putih, favoritku. Aku melihatnya berbicara padaku, mencurahkan isi hatinya, berharap aku mendengarnya. Aku memang mendengarnya, Mei, tapi aku tak bisa menjawab. Hari demi hari, aku mengikutinya, menyelidiki masa laluku. Aku menemukan petunjuk-petunjuk kecil, tersembunyi di balik senyum palsu dan kata-kata manis. Aku melihat bagaimana sahabatku, Zhang Wei, berperan dalam kematianku. Kecemburuan, ambisi, dan pengkhianatan – racun-racun itu merusak jiwanya, membutakannya. Aku bisa saja membalas dendam. Kekuatan arwah memberiku kemampuan untuk menakutinya, menyiksanya, membuatnya merasakan apa yang kurasakan. Tapi, setiap kali aku mencoba, ada sesuatu yang menahanku. Bayangan Lin Mei, senyumnya yang rapuh, harapan di matanya. Aku tak ingin membuatnya lebih menderita. Malam itu, di puncak Bukit Seribu Kenangan, aku berhadapan dengan Zhang Wei. Dia ketakutan, tubuhnya gemetar. Aku melihat penyesalan di matanya, penyesalan yang terlambat. Aku bisa saja menghancurkannya, tapi aku memilih untuk melepaskannya. "Kebenaran akan terungkap, Wei," bisikku. "Bukan dariku, tapi dari hatimu sendiri." Aku melihat Lin Mei berdiri di kejauhan, air mata membasahi pipinya. Dia tahu. Dia tahu segalanya. Dia tahu bahwa aku ada di sana, melindunginya, mencintainya. Aku mendekatinya, berusaha menyentuhnya, tapi hanya merasakan hembusan angin dingin. Aku berbalik, memandang langit malam yang bertabur bintang. Aku tak mencari balas dendam. Aku mencari *KEDAMAIAN*. Kedamaian untuk diriku sendiri, kedamaian untuk Lin Mei, dan kedamaian untuk dunia ini. Tugas ku selesai. Aku melihat senyum Lin Mei, dan saat itulah, aku *akhirnya* mengerti…
You Might Also Like: Agen Skincare Bisnis Tanpa Stok Barang
0 Comments: