**Kaisar itu Menangis, tapi Air Matanya Bukan untuk Rakyat.** Hujan jatuh di atas Makam Kaisar Agung, setiap tetes bagai ratapan yang tak terucap. Di sana, di antara nisan-nisan batu yang menjulang tinggi, berdiri sesosok arwah. Bukan, bukan arwah yang haus darah atau dipenuhi dendam. Ini adalah Li Wei, Perdana Menteri kesayangan Kaisar Xuanzong, yang meninggal mendadak, lidahnya terkunci oleh racun sebelum sempat mengungkap pengkhianatan. Dunia arwah, pikir Li Wei, ternyata sunyi dan indah. Seperti lukisan tinta yang memudar, kenangan masa lalu hadir namun tak terasa nyata. Ia kembali bukan karena ingin menyaksikan Kaisar Xuanzong menderita. Tidak, rasa benci telah lama menguap, digantikan oleh sebuah beban yang lebih berat. Li Wei *mengingat* malam itu. Anggur beracun, tatapan **DINGIN** Kaisar, dan kata-kata terakhir yang ingin diucapkannya. Pengkhianatan Jenderal Zhao, rencana kudeta yang akan menghancurkan Dinasti. Semuanya tertahan di tenggorokannya, membawanya menuju kematian yang *tragis*. Bayangan Li Wei menolak pergi. Ia mengikuti Kaisar Xuanzong dalam setiap langkah, menyaksikan sang Kaisar menangis di atas singgasana emasnya. Air mata itu, Li Wei tahu, bukan untuk rakyat yang menderita kelaparan, bukan pula untuk para prajurit yang gugur di medan perang. Air mata itu adalah air mata ketakutan. Kaisar Xuanzong tahu, *pasti* tahu, bahwa ada sesuatu yang belum selesai. Ia merasakan kehadiran Li Wei, merasakan mata hantu itu mengawasi setiap gerakannya. Kegelisahan menggerogoti jiwanya, membuatnya menjadi bayangan dari Kaisar yang perkasa. Li Wei tidak pernah berusaha menakut-nakuti sang Kaisar. Ia hanya *ADA*. Ia ada di setiap hembusan angin di Taman Kekaisaran, di setiap pantulan cahaya rembulan di danau buatan, di setiap bisikan para pelayan. Kehadirannya adalah pengingat abadi tentang kebenaran yang belum terungkap. Waktu berlalu, dan Dinasti diambang kehancuran. Jenderal Zhao memulai kudetanya, pasukannya mengepung Istana. Kaisar Xuanzong, yang dilumpuhkan oleh rasa bersalah dan ketakutan, tak mampu berbuat apa-apa. Di tengah kekacauan itu, Li Wei *muncul* di hadapan Kaisar. Bukan sebagai hantu yang menakutkan, melainkan sebagai sosok yang tenang dan damai. Ia membisikkan sebuah nama, nama seorang kasim yang setia kepada Kaisar, seorang saksi mata pengkhianatan Jenderal Zhao. Kaisar Xuanzong, dengan sisa-sisa kekuatannya, memerintahkan kasim itu untuk dipanggil. Kebenaran akhirnya terungkap. Jenderal Zhao dihukum mati, Dinasti diselamatkan untuk sementara waktu. Li Wei *tersenyum*. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum kelegaan. Balas dendam bukanlah tujuannya. Yang ia cari adalah kedamaian, kedamaian bagi dirinya sendiri, kedamaian bagi rakyat, dan kedamaian bagi Kaisar yang telah mengkhianatinya. Di bawah sinar rembulan yang pucat, Li Wei memudar, perlahan menghilang. Tugasnya selesai. Bebannya telah terangkat. Dan di dalam keheningan yang mendalam, arwah itu baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya, merasakan angin yang berbisik membawa serta rahasianya...
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Penghasilan
0 Comments: