Bibir yang Membisikkan Kematian
Hujan kota Jakarta merembes melalui kaca jendela apartemenku, serupa air mata yang tak terhitung jumlahnya. Aroma kopi pahit, seperti kenanganmu, menyesaki rongga dadaku. Di layar ponselku, notifikasi yang tak pernah lagi berdering atas namamu. Lin.
Dulu, cinta kita tumbuh di antara notifikasi itu. Setiap ding! darimu adalah senyum yang merekah di bibirku. Mimpi kita terjalin di antara chat larut malam, rencana-rencana indah yang kini hanya serpihan kaca. Sekarang, yang tersisa hanyalah sisa chat yang tak terkirim, kata-kata yang mengering sebelum sempat kau baca.
Aku masih ingat bibirmu, Lin. Bibir yang manis, tapi ternyata bisikan kematian.
Kau menghilang, Lin. Tanpa jejak. Tanpa penjelasan. Seperti sinyal yang tiba-tiba hilang di tengah badai. Awalnya, aku mencari. Mencari di setiap sudut kota, di setiap unggahan Instagram, di setiap kemungkinan. Tapi, semakin kucari, semakin dalam aku tersesat dalam labirin kehilangan.
Orang-orang bilang aku harus move on. Mereka bilang aku harus melupakanmu. Tapi bagaimana aku bisa melupakan seseorang yang begitu dalam tertanam di hatiku? Bagaimana aku bisa menghapus kenangan yang begitu indah, begitu nyata, namun ternyata palsu?
Aku mulai menggali. Menjelajahi masa lalumu, mencari petunjuk yang kau sembunyikan. Aku menemukan rahasia. Rahasia yang membuat hatiku hancur berkeping-keping. Rahasia tentang utang, tentang ancaman, tentang… dirinya.
Ternyata, aku hanya pion dalam permainanmu. Pion yang kau gunakan untuk menutupi jejakmu, melindungi dirimu. Kau menggunakan cintaku, ketulusanku, kepercayaanku untuk sebuah tujuan yang KOTOR.
Kehilangan ini menyakitkan. Lebih menyakitkan dari tusukan pisau. Lebih menyakitkan dari racun yang perlahan membunuhku dari dalam. Tapi, di balik rasa sakit ini, tumbuh sebuah tekad.
Aku tidak akan membiarkanmu lolos.
Aku tidak akan membiarkanmu menikmati hidupmu setelah kau menghancurkan hidupku.
Aku tidak akan membiarkanmu melupakan apa yang telah kau lakukan.
Balas dendamku akan lembut, Lin. Selembut bisikan angin, namun mematikan seperti racun yang kau berikan.
Aku mengirimkan pesan terakhir. Sebuah pesan singkat, tanpa emosi. Hanya sebuah tautan artikel berita tentang seorang pengusaha yang ditemukan tewas bunuh diri. Pengusaha yang memiliki hubungan sangat dekat denganmu.
Aku tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia, tapi senyum penerimaan. Senyum pembalasan.
Aku memutuskan untuk pergi. Meninggalkan kota ini, kenangan ini, rasa sakit ini. Aku akan memulai hidup baru, jauh dari bayang-bayangmu. Aku akan melupakanmu.
Aku menutup pintu apartemenku, meninggalkan semuanya di belakang. Di depan pintu, aku meninggalkan secarik kertas. Hanya satu kata: LUNAS.
Dan di layar ponselku, sebuah notifikasi muncul. Notifikasi terakhir. Dari nomor yang tidak kukenal.
"Kau belum selesai, Sayang."
You Might Also Like: Distributor Kosmetik Jualan Online
0 Comments: