Senyum yang Menyembuhkan Luka Lama Lentera-lentera Istana Hang dingin menyinari wajah Li Wei. Lima tahun lalu, wajah itu adalah tawa yang ...

Drama Abiss! Senyum Yang Menyembuhkan Luka Lama Drama Abiss! Senyum Yang Menyembuhkan Luka Lama

Drama Abiss! Senyum Yang Menyembuhkan Luka Lama

Drama Abiss! Senyum Yang Menyembuhkan Luka Lama

Senyum yang Menyembuhkan Luka Lama

Lentera-lentera Istana Hang dingin menyinari wajah Li Wei. Lima tahun lalu, wajah itu adalah tawa yang merekah, mimpi yang bersemi di pelukan Pangeran Zhao, pewaris takhta yang ia cintai dengan segenap jiwa. Kini, wajah itu adalah topeng. Topeng kesunyian.

Li Wei, dulu seorang putri kerajaan kecil yang lemah, kini berdiri tegak di jantung kekuasaan, sebagai selir kesayangan Kaisar. Pernikahannya dengan Kaisar—ayah dari Pangeran Zhao—adalah tebusan untuk menyelamatkan kerajaannya dari kehancuran, sebuah pengkhianatan yang dirancang oleh Pangeran Zhao sendiri demi ambisinya.

Luka itu menganga, menggerogoti jiwanya. Kekuatan yang dulu ia sangkal, kini tumbuh subur di tanah air mata dan pengkhianatan. Ia belajar memainkan permainan istana, mengasah lidahnya menjadi pedang, menyembunyikan kelembutan hatinya di balik lapisan es.

Li Wei, nama itu kini diucapkan dengan hormat, bahkan dengan takut. Kecantikannya memikat, tapi di balik mata seindah danau yang tenang itu, tersembunyi badai yang siap menerjang.

Setiap langkah Li Wei adalah kalkulasi yang dingin. Ia menggunakan pesonanya untuk menaklukkan hati para pejabat penting, mengumpulkan informasi, membangun aliansi tersembunyi. Ia adalah bunga teratai yang tumbuh di medan perang, akar-akarnya menghisap nutrisi dari darah dan air mata.

Pangeran Zhao, kini Kaisar Zhao setelah kematian ayahnya yang misterius, merasakan perubahan pada Li Wei. Wanita yang dulu tunduk dan penurut, kini menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. Ia mencoba memanipulasinya, mengingatkannya pada janji-janji cinta masa lalu, tapi Li Wei hanya tersenyum.

Senyum itu… bukan lagi senyum Li Wei yang dulu. Senyum itu adalah senjata. Senyum yang tak menyiratkan amarah, tapi ketenangan yang MEMATIKAN.

Ia menggunakan informasi yang ia kumpulkan untuk menjatuhkan lawan-lawan politik Kaisar Zhao, satu per satu. Ia menciptakan perpecahan di antara mereka, memanipulasi mereka untuk saling menghancurkan. Ia melakukannya bukan dengan teriakan atau ancaman, tapi dengan bisikan lembut dan sentuhan halus.

Kaisar Zhao mulai panik. Ia melihat kerajaannya, yang ia bangun dengan pengkhianatan dan ambisi, mulai runtuh di sekelilingnya. Ia menuduh Li Wei, mengancamnya, tapi Li Wei hanya tertawa.

"Dulu, aku mencintaimu dengan segenap jiwa," bisiknya, suaranya sedingin es. "Sekarang… aku mencintai negaraku, dan aku akan melakukan apa pun untuk melindunginya… bahkan jika itu berarti menghancurkanmu."

Akhirnya, Kaisar Zhao jatuh. Ia terjerat dalam konspirasi yang ia ciptakan sendiri, dikhianati oleh orang-orang yang ia percayai. Li Wei, berdiri di balkon istana, menyaksikan kejatuhannya dengan tatapan tanpa emosi.

Kaisar Zhao, dalam jeratan rantai dan putus asa, menatap Li Wei. "Mengapa?" tanyanya, suaranya parau.

Li Wei tersenyum, senyum yang sama yang pernah menghancurkannya lima tahun lalu. "Ini… adalah caraku untuk menyembuhkan luka lama," jawabnya, sebelum berbalik dan meninggalkan Kaisar Zhao dalam kegelapan.

Beberapa bulan kemudian, Li Wei, dengan dukungan para pejabat dan jenderal setia, menduduki takhta sebagai Maharani… dan dia baru saja memulai pemerintahannya, mewarisi mahkota yang sebenarnya layak ia kenakan, dengan ketenangan seorang penguasa yang akan abadi.

You Might Also Like: 0895403292432 Diskon Skincare Lokal

0 Comments: