Mei Hua. Nama itu dulunya identik dengan tawa renyah dan mata berbinar yang mampu meluluhkan baja. Sekarang, yang tersisa hanya sisa-sisa kehangatan itu, terbungkus rapat dalam balutan ketenangan dingin. Ketenangan yang ia paksa diciptakan, setelah hatinya tercabik-cabik oleh intrik istana dan pengkhianatan cinta.
Dulu, ia hanyalah seorang selir kesayangan Kaisar, terbuai janji abadi dan kekuasaan yang gemerlap. Lalu, semua runtuh. Dituduh berkhianat, dicampakkan seperti debu di bawah kaki kekaisaran, dan kenangannya yang dianggap terlalu berbahaya dihapus paksa. Ia dibuang, dilupakan, dianggap lenyap.
Tapi mereka salah.
Mereka menghapus memori, bukan jiwa. Mereka menghancurkan masa lalu, bukan esensi diri.
Mei Hua menemukan dirinya di sebuah desa terpencil, tanpa nama, tanpa identitas. Awalnya, hanya ada kekosongan. Hutan belantara yang luas dalam benaknya. Namun, sedikit demi sedikit, insting bertahan hidupnya kembali. Ia belajar bertani, berdagang, bahkan bela diri dari seorang pertapa misterius yang melihat bara api yang masih menyala dalam dirinya.
Di luar, ia mungkin tampak seperti wanita desa biasa, lembut dan penurut. Tapi di dalam, api dendam membara pelan, sangat terkendali, sehingga nyaris tak terlihat. Ia tidak menginginkan amarah yang membabi buta. Ia menginginkan KETERATURAN yang presisi, seperti seorang ahli bedah yang membedah dengan tenang, tahu persis di mana dan kapan harus menusuk.
Bertahun-tahun berlalu. Mei Hua membangun kembali dirinya. Ia menggunakan keahlian barunya untuk mengakumulasi kekayaan, pengetahuan, dan pengaruh. Ia memanipulasi bidak-bidak catur kekaisaran dari balik layar, menarik benang takdir, memastikan para pengkhianat merasakan buah dari perbuatan mereka. Mantan suaminya, sang Kaisar, perlahan-lahan kehilangan kekuasaannya, tanpa menyadari bahwa wanita yang ia buanglah yang menjadi arsitek kejatuhannya. Para menteri korup yang dulu menuduhnya, jatuh satu per satu, dituduh balik dengan bukti yang tak terbantahkan.
Ia tidak berteriak. Ia tidak mengamuk. Ia hanya MENGHAPUS mereka, satu per satu, dari lembaran sejarah. Dengan senyum tipis di bibirnya, ia menghancurkan kerajaan yang pernah menjadi dunianya. Ia membangun kerajaannya sendiri, terbuat dari keheningan dan kalkulasi.
Di akhir perjalanannya, berdiri di atas reruntuhan yang dulunya adalah istana kekaisaran, Mei Hua memandangi langit yang merah membara. Cahaya senja menyoroti wajahnya, menampakkan guratan luka yang tersembunyi di balik senyum tenangnya. Dendamnya telah terbalaskan. Kekuatannya telah pulih.
Ia mengangkat dagunya, membiarkan angin menerpa rambutnya yang hitam legam.
Kini, ia mengerti bahwa kenangan mereka mungkin telah dihapus, tapi perbuatan mereka telah terukir abadi di hatinya, seperti tato yang tak bisa dihilangkan...
Dan kini, sang Ratu yang Agung, akhirnya siap untuk menulis ulang semua sejarah versinya.
You Might Also Like: Jual Skincare Untuk Ibu Hamil Dan
0 Comments: