"Akhirnya kau datang, Xiao Yi," bisiknya, suaranya serak tertelan angin. Xiao Yi berdiri di ambang pintu, bayangannya patah oleh...

Harus Baca! Bayangan Yang Menyimpan Nama Yang Terlarang Harus Baca! Bayangan Yang Menyimpan Nama Yang Terlarang

Harus Baca! Bayangan Yang Menyimpan Nama Yang Terlarang

Harus Baca! Bayangan Yang Menyimpan Nama Yang Terlarang

"Akhirnya kau datang, Xiao Yi," bisiknya, suaranya serak tertelan angin.

Xiao Yi berdiri di ambang pintu, bayangannya patah oleh cahaya lentera yang menipis. Wajahnya, yang dulu begitu ia cintai, kini dipenuhi garis-garis kekhawatiran dan penyesalan. Rambutnya yang dulu hitam legam kini diselingi perak, seperti sungai yang tercemar.

"Shi Lan," sahutnya, suaranya bergetar. "Sudah lama sekali."

Lama? Lima belas tahun lamanya, terukir dalam setiap luka yang tidak pernah sembuh. Lima belas tahun sejak ia mengkhianati cintanya demi ambisi dan kekuasaan. Lima belas tahun sejak Shi Lan kehilangan segalanya.

"Kau pasti berpikir aku sudah melupakanmu," kata Shi Lan, senyum pahit tersungging di bibirnya. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. "Kau salah. Aku mengingatmu setiap hari. Setiap jam. Setiap detik."

Xiao Yi melangkah mendekat. Cahaya lentera menampakkan jelas bekas luka di wajah Shi Lan, sisa dari kebakaran yang "kebetulan" terjadi malam pengkhianatan itu. Rasa bersalah mencengkeram dadanya.

"Aku… aku menyesal, Shi Lan. Aku tahu kata-kata tidak akan bisa memperbaiki apa yang telah kulakukan…"

"Memperbaiki?" Shi Lan tertawa hambar. "Tidak ada yang bisa diperbaiki, Xiao Yi. Semuanya sudah HANCUR! Kau mengambil segalanya dariku."

Hujan semakin deras, menggemakan amarah yang membara dalam diri Shi Lan. Ia berdiri, lentera di tangannya bergetar. Cahaya yang sekarat itu tiba-tiba terasa seperti mata yang menuduh.

"Kau pikir aku akan memaafkanmu? Kau pikir aku akan melupakan semua penderitaanku?" Shi Lan maju selangkah. "Kau salah besar. Aku sudah menunggu saat ini selama lima belas tahun."

Air mata mengalir di pipi Xiao Yi, bercampur dengan air hujan. Ia menunduk, menerima hukuman yang ia yakini pantas ia dapatkan.

"Aku siap menerima apapun hukumanmu, Shi Lan."

Shi Lan mengangkat lentera itu tinggi-tinggi. Cahaya yang tersisa menyoroti wajahnya, menampakkan kegelapan yang selama ini tersembunyi di balik senyumnya.

"Hukumanmu... bukan kematian, Xiao Yi. Hukumanmu adalah menyaksikan kerajaanku bangkit dari abu, dibangun di atas kejatuhanmu."

Xiao Yi mengangkat kepalanya, terkejut. "Kerajaanmu?"

Shi Lan tersenyum. Senyum yang dingin dan menakutkan.

"Ya, Xiao Yi. Kau tahu... nama keluargaku yang sebenarnya... bukan Shi. Itu adalah..."

Dan saat itu, di tengah gemuruh hujan dan cahaya lentera yang akhirnya padam, terungkaplah sebuah rahasia yang akan mengubah segalanya: 'Bayangan yang menyimpan nama yang terlarang' sebenarnya adalah keturunan terakhir dari dinasti yang kau rebut dengan darah dan pengkhianatan, Xiao Yi!

You Might Also Like: Jualan Kosmetik Peluang Usaha Ibu Rumah

0 Comments: