Oke, ini dia: **Senja yang Membeku** Hujan menggigil menyapu Kota Tua, mirip dengan kenangan yang mencabik-cabik hatiku. Delapan tahun. Delapan tahun sejak matanya, mata **_Jade_**, terakhir kali kulihat penuh cinta. Sekarang, tatapan itu hanya dipenuhi rasa ingin tahu, mungkin sedikit nostalgia, tapi tanpa kehangatan. "Lama tidak bertemu, Li Wei," sapanya, suaranya sehalus sutra yang dulu kurindukan. Sekarang, suara itu bagai serpihan kaca. "Jade," balasku, menyebut namanya terasa seperti meludahi debu sejarah. "Kau tampak…bahagia." Ia tersenyum tipis, senyum yang tak pernah menyentuh matanya. "Bahagia adalah kata yang relatif, Li Wei. Terutama setelah kehilangan segalanya." Cahaya lentera yang nyaris padam di depan kedai menari-nari, memproyeksikan bayangan kami yang patah di dinding. Bayangan masa lalu. Kami dulu adalah janji, harapan, masa depan yang terukir di batu nisan waktu. Tapi kemudian, badai datang. Badai bernama **PENGKHIANATAN**. Aku menatapnya. Jade yang dulu kukenal, dengan tawa riang dan hati yang tulus, seolah telah terkubur dalam lautan kesedihan. Ia telah menikahi penerus Keluarga Zhang, rival bisnis keluargaku. Pernikahan yang menghancurkan segalanya. Pernikahan yang menjadi awal dari _KEHANCURAN_ keluargaku. Selama bertahun-tahun, aku hidup dalam kegelapan, membangun kembali diriku, menyusun rencana. Aku datang bukan untuk mencintainya, tapi untuk membalas dendam. Aku telah memanipulasi pasar, mengendalikan arus keuangan, dan menarik benang-benang takdir untuk membawanya kembali ke sini, ke hadapanku. "Kau tahu mengapa aku kembali, kan?" tanyaku, suara rendah dan mengancam. Ia menggeleng pelan, matanya yang indah kini dipenuhi ketakutan. "Aku tidak mengerti." "Dulu kau menatapku dengan harapan, Jade. Sekarang, lihatlah. Aku datang sebagai pembalasan. Keluargamu… bisnis suamimu… semua itu…." Aku berhenti, menikmati ketakutannya. "Semua itu akan menjadi debu." Ia terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. "Mengapa, Li Wei? Mengapa melakukan ini? Kita bisa… kita bisa…" "Bisa apa?" Aku mencibir. "Bisa melupakan pengkhianatanmu? Bisa mengembalikan kehormatan keluargaku yang kau hancurkan?" Hujan semakin deras, membasahi rambut dan pakaian kami. Aku mendekat, menyentuh pipinya yang dingin. "Aku telah kehilangan segalanya karena kau, Jade. Sekarang, giliranmu." Aku melihat kekalahan di matanya, penyesalan yang terlambat. Tapi tidak ada ampun untuknya. Aku berbalik, meninggalkan Jade yang berdiri di bawah hujan. Cahaya lentera itu padam. Bayangan kami menghilang. Aku berjalan pergi, meninggalkan rasa sakit dan kehancuran di belakangku. Tapi kemudian, aku teringat senyuman ayahku sebelum dia bunuh diri, dan aku tahu bahwa dendam ini… BELUM BERAKHIR. Jade mungkin berpikir aku membalas dendam atas nama keluargaku… namun yang sebenarnya adalah… *ayahku bukanlah ayah kandungku*.
You Might Also Like: Reseller Skincare Reseller Dropship
0 Comments: