**Hujan yang Merenggut Cinta** Rintik hujan menari-nari di kaca jendela, serupa nyanyian duka yang tak kunjung usai. Lin Ya menatapnya, matanya seteduh danau di kala senja, namun menyimpan badai di kedalamannya. Aroma teh pahit mengepul di dekatnya, seolah mewakili getirnya hidup yang ia jalani selama lima tahun terakhir. Lima tahun. Waktu yang cukup untuk merajut luka, menumbuhkan dendam, dan memalsukan senyum. Lima tahun sejak pengkhianatan itu, sejak *Dia*—Jiang Wei—merebut segalanya. Dulu, cinta mereka sehangat mentari pagi. Di bawah pohon willow yang sama, mereka berjanji untuk selamanya. Namun, janji hanyalah bisikan angin, mudah lenyap ditelan badai. Jiang Wei memilih harta dan kekuasaan, meninggalkan Lin Ya seorang diri dengan hati yang remuk. Setiap tetes hujan yang jatuh seolah mencabik-cabik kenangan. Bayangan Jiang Wei, yang dulu begitu dicintainya, kini hanya siluet patah yang menghantuinya di setiap sudut ruangan. Cahaya lentera di sudut kamar berkedip-kedip, seakan tahu bahwa harapan Lin Ya nyaris padam. "Jiang Wei," bisiknya lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam gemuruh hujan. "Kau pikir aku sudah melupakan semuanya?" Ia mengusap kalung giok di lehernya, satu-satunya benda yang tersisa dari masa lalu mereka. Kalung itu dingin, sama dinginnya dengan hatinya. Dulu, Jiang Wei memberikannya dengan senyum manis. Sekarang, senyum itu hanya topeng. Dendam adalah racun yang manis, terutama jika dicampur dengan cinta yang terkhianati. Lin Ya telah meracik ramuan itu dengan hati-hati, menunggunya matang sempurna. Ia mempelajari setiap kelemahan Jiang Wei, menggali setiap rahasianya, dan menyusun strategi yang *sempurna*. Setiap langkahnya selama lima tahun ini, setiap senyum palsunya, setiap kata manisnya, hanyalah bagian dari sandiwara besar. Ia telah membangun kembali dirinya, menjadi wanita yang lebih kuat, lebih pintar, dan lebih kejam. Malam ini, Jiang Wei akan datang. Ia mengundang Lin Ya untuk makan malam, mencoba menjilat ludahnya sendiri, berharap bisa merebut kembali apa yang telah ia buang. Ia tidak tahu, bahwa Lin Ya telah menyiapkan hidangan terakhir: **BALAS DENDAM**. Lin Ya tersenyum tipis. "Selamat datang kembali ke sarang laba-laba, Jiang Wei." Saat bel pintu berdering, bayangan Jiang Wei tampak memanjang di koridor, seolah menari dalam kegelapan. Ia tidak tahu, bahwa bayangan itu bukan hanya miliknya, tetapi juga milik seseorang yang selama ini *MENYAKSIKAN* semua yang terjadi, menunggu waktu yang tepat untuk mengungkap kebenaran. Dan kebenaran itu adalah… *bahwa racun yang diminum Jiang Wei bukanlah racun biasa, melainkan racun yang dibuat dari air mata ibunya sendiri*.
You Might Also Like: Name Detective Uncover Identity Of Your

0 Comments: