Baiklah, ini kisah dracin emosional yang saya susun, berjudul 'Kau Datang di Antara Doa dan Kutukan, dan Aku Tak Tahu Harus Memilih yang...

Dracin Seru: Kau Datang Di Antara Doa Dan Kutukan, Dan Aku Tak Tahu Harus Memilih Yang Mana Dracin Seru: Kau Datang Di Antara Doa Dan Kutukan, Dan Aku Tak Tahu Harus Memilih Yang Mana

Dracin Seru: Kau Datang Di Antara Doa Dan Kutukan, Dan Aku Tak Tahu Harus Memilih Yang Mana

Dracin Seru: Kau Datang Di Antara Doa Dan Kutukan, Dan Aku Tak Tahu Harus Memilih Yang Mana

Baiklah, ini kisah dracin emosional yang saya susun, berjudul 'Kau Datang di Antara Doa dan Kutukan, dan Aku Tak Tahu Harus Memilih yang Mana'. **Kau Datang di Antara Doa dan Kutukan, dan Aku Tak Tahu Harus Memilih yang Mana** Embun pagi merayap di kelopak mawar, serupa dengan air mata yang diam-diam menggenang di pelupuk mata Lan. Lan, dengan gaun sutra putihnya, berdiri di tepi danau buatan di kediaman megahnya. Kediaman yang dibangun di atas fondasi kebohongan. Dia, Lan, adalah *putri mahkota* Dinasti Yan. Dinasti yang gemilang namun menyimpan rahasia busuk di balik tirai keemasannya. Rahasia yang ia simpan rapat-rapat, di bawah senyum manis yang dipaksakan. Kemudian, dia datang. Xiao, seorang pendekar pedang dengan mata setajam elang dan hati yang dipenuhi rasa haus akan keadilan. Xiao datang bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk menggali kebenaran. Kebenaran tentang kematian ayahnya, seorang jenderal besar yang dikhianati. "Putri Lan," sapa Xiao dengan suara yang bagai belati terhunus. "Kudengar kau tahu lebih banyak dari yang kau akui." Lan membalikkan badan, menatap Xiao dengan mata yang menyimpan badai. "Kau salah paham, Pendekar Xiao. Aku hanyalah seorang putri, tidak lebih." *Bohong*. Kata itu bergema dalam benak Lan. Dia tahu segalanya. Dia tahu siapa yang memerintahkan pembunuhan ayah Xiao. Dia tahu bahwa orang itu adalah… ayahnya sendiri, Kaisar Yan. Hari-hari berikutnya, Lan dan Xiao bagai kucing dan tikus. Xiao terus mendesak, mencari celah dalam pertahanan Lan. Sementara Lan, terperangkap antara loyalitas pada keluarga dan rasa bersalah yang menghantuinya, terus berbohong. Kebohongan yang semakin lama semakin mencekik. Namun, di balik permainan kucing dan tikus itu, tumbuh sesuatu yang lain. Sesuatu yang terlarang. Sesuatu yang membuat Lan meragukan segalanya. Xiao melihat kebaikan dalam diri Lan, meskipun tertutup rapat oleh kebohongan. Lan melihat kejujuran dan keberanian dalam diri Xiao, hal yang sangat langka di istana yang penuh intrik. "Aku *ingin* percaya padamu, Lan," kata Xiao suatu malam, di bawah rembulan yang pucat. "Tapi aku butuh bukti." Lan menunduk. Bibirnya bergetar. Dia tahu, jika dia mengungkapkan kebenaran, istananya akan runtuh. Dinasti Yan akan hancur. Dan dia… dia akan kehilangan segalanya. Malam itu, Lan membuat pilihan. Pilihan yang akan mengubah hidupnya selamanya. *** Puncak dari segala kebohongan itu tiba saat festival musim gugur. Kaisar Yan, dengan angkuhnya, berdiri di atas altar, menerima penghormatan dari para bangsawan. Di tengah kerumunan, Lan memberikan isyarat tersembunyi pada Xiao. Xiao maju ke depan, pedangnya terhunus. "Kaisar Yan! Kau telah membunuh ayahku! Aku datang untuk menuntut balas!" Istana gempar. Para penjaga menyerbu Xiao, tetapi ia terlalu cepat. Ia berhasil mendekati Kaisar Yan. Lan berdiri terpaku, menyaksikan segalanya. *Ini adalah akhir*. Tiba-tiba, Lan berlari ke arah Xiao, menghalangi pedangnya. Darah memuncrat. Lan ambruk ke tanah. "Lan!" Xiao berteriak histeris. Kaisar Yan tertawa sinis. "Bodoh! Kau pikir dengan mengorbankan dirimu, kau bisa menyelamatkan ayahmu?" Dengan sisa tenaganya, Lan menatap Xiao. "Maafkan aku… Aku tidak bisa jujur sepenuhnya. Tapi… kebenaran ada di balik… *patung naga emas*…" Lan menghembuskan napas terakhirnya. *** Xiao, dengan hati hancur, mengikuti petunjuk terakhir Lan. Di balik patung naga emas, ia menemukan surat-surat yang membuktikan kejahatan Kaisar Yan. Kebenaran akhirnya terungkap. Kerajaan Yan terguncang. Kaisar Yan dijatuhi hukuman mati. Dinasti Yan berada di ambang kehancuran. Xiao, dengan rasa sakit yang tak tertahankan, berdiri di depan makam Lan. Ia menaburkan abu jenazah Kaisar Yan di atas makam itu. Balas dendam yang sempurna. Balas dendam yang dingin. Balas dendam yang tenang. Dia tersenyum, senyum yang menyimpan perpisahan abadi. "Selamat tinggal, Lan. Kau telah membebaskan kami semua. Tapi… *apakah kebebasan ini sepadan dengan pengorbananmu?*" Di balik senyum itu, tersimpan satu pertanyaan yang akan menghantuinya selamanya.
You Might Also Like: Manfaat Pembersih Wajah Lokal Tanpa

0 Comments: