Hujan mengetuk jendela apartemenku, iramanya selaras dengan lagu melankolis yang tengah kuputar. Di layar ponsel, notifikasi terus berdatan...

Cerita Populer: Ia Menyebut Namaku Saat Streaming Lagu Sedih Cerita Populer: Ia Menyebut Namaku Saat Streaming Lagu Sedih

Cerita Populer: Ia Menyebut Namaku Saat Streaming Lagu Sedih

Cerita Populer: Ia Menyebut Namaku Saat Streaming Lagu Sedih

Hujan mengetuk jendela apartemenku, iramanya selaras dengan lagu melankolis yang tengah kuputar. Di layar ponsel, notifikasi terus berdatangan, sisa-sisa dunia digital yang masih berputar meski hatiku terasa berhenti. Di antara notifikasi itu, satu nama selalu muncul: "AwanCeria99". Awan.

Awalnya hanya obrolan iseng di kolom komentar streaming-ku. Aku, seorang DJ amatiran yang menghibur diri dengan memainkan lagu-lagu patah hati di tengah malam. Dia, seorang pendengar setia yang selalu punya kata-kata manis, kadang lucu, sering kali terlalu mengerti.

Lama-lama, obrolan itu berpindah ke pesan pribadi. Berbagi playlist, cerita tentang hari yang berat, bahkan mimpi-mimpi yang terlalu indah untuk diucapkan dengan lantang. Aku menyukai caranya bercerita, seperti membaca puisi di tengah hiruk pikuk kota.

Kami tak pernah bertemu. Awan adalah entitas digital, sepotong fragmen cahaya di tengah kegelapan layar. Namun, kehadirannya terasa nyata, sehangat aroma kopi di pagi hari, sesegelas peluk di tengah badai.

Kemudian, semuanya berubah.

Suatu malam, saat aku memutar lagu yang terlalu personal – lagu yang mengingatkanku pada masa lalu yang ingin kulupakan – Awan tiba-tiba menghilang. Notifikasinya berhenti. Pesannya tak lagi terkirim. Dia menjadi sunyi, senyap, seperti menghilang ditelan kode biner.

Minggu-minggu berlalu. Aku terus streaming, berharap melihat namanya kembali di kolom komentar. Aku terus mengirim pesan, berharap ada balasan. Tapi yang kudapat hanya kehampaan. Kekosongan itu terasa lebih menyakitkan dari lagu-lagu patah hati yang kuputar.

Aku mulai mencari tahu tentang Awan. Akun media sosial yang kosong, alamat email palsu. Ia adalah misteri yang terbungkus dalam lapisan algoritma. Lalu, aku menemukan sebuah clue, sebuah petunjuk samar yang tertinggal di salah satu pesannya: sebuah nama kota, sebuah kafe kecil, sebuah lagu yang sama-sama kami sukai.

Aku pergi ke sana.

Di kafe itu, aku bertemu seorang wanita. Matanya menyimpan kesedihan yang sama dengan yang kurasakan. Ia tersenyum getir saat mendengar aku menyebut nama "Awan".

"Awan… dia adalah adikku," katanya. "Dia... dia sudah tiada."

Ternyata, Awan adalah kenangan. Sebuah hantu digital yang mencoba menggapai masa lalu lewat lagu dan obrolan. Ia menggunakan akun adiknya, mencoba merasakan hidup sekali lagi lewat orang asing yang memainkan lagu kesukaannya.

Kenyataan itu menghantamku seperti ombak. Rasa kehilangan yang samar akhirnya mendapatkan wujudnya. Cinta digital itu ternyata hanyalah echo dari sebuah kesedihan yang teramat dalam.

Aku kembali ke apartemenku. Hujan masih turun. Di layar ponsel, aku membuka percakapan terakhir kami. Aku mengetik sebuah pesan: "Terima kasih, Awan. Aku mengerti sekarang."

Aku tidak mengirimnya.

Sebagai gantinya, aku memutar lagu favorit Awan, lagu yang sama yang membuatnya menghilang. Aku memejamkan mata, membiarkan melodi itu mengalir, membiarkan kesedihan itu mengalir.

Kemudian, aku tersenyum. Senyum tipis, dingin, penuh perhitungan.

Aku menghapus aplikasi streaming-ku.

Ia takkan lagi mendengar namaku.

You Might Also Like: Top Senyum Yang Membawa Surat Wasiat

0 Comments: