Cinta yang Menemukan Rumahnya Langit Chang'an di musim gugur, senja memerah darah. Lin Mei, berdiri di atas menara tinggi istana yang ...

Drama Abiss! Cinta Yang Menemukan Rumahnya Drama Abiss! Cinta Yang Menemukan Rumahnya

Cinta yang Menemukan Rumahnya

Langit Chang'an di musim gugur, senja memerah darah. Lin Mei, berdiri di atas menara tinggi istana yang dulu menjadi saksi bisu kebahagiaannya, kini hanya merasakan dingin yang menusuk tulang. Dulu, ia adalah permaisuri kesayangan, dielu-elukan karena kecantikan dan kecerdasannya. Sekarang? Hanya hantu masa lalu, bergentayangan di antara bayangan kekalahan.

Cintanya pada Kaisar, dulu begitu membara, kini hanya abu. Kekuasaan yang diidamkannya, dulu begitu dekat, kini terlepas dari genggamannya. Ia dikhianati, dijebak, dan dipermalukan di depan seluruh kekaisaran. Kekasihnya, Kaisar yang dulu bersumpah setia, menikahi wanita lain, mengangkatnya menjadi permaisuri, dan mengasingkan Lin Mei ke sudut istana yang terlupakan.

Namun, di balik mata sayu yang menyimpan KESEDIHAN mendalam, tersembunyi bara yang belum padam. Lin Mei mungkin hancur, tapi ia tidak mati.

"Mereka pikir aku sudah selesai," gumamnya pada angin, suaranya serak namun menyimpan kekuatan tersembunyi. "Mereka salah."

Hari-hari berikutnya, Lin Mei menghabiskan waktu dengan tenang. Ia mempelajari strategi perang, membaca kitab-kitab kuno, dan menyempurnakan keterampilannya dalam kaligrafi dan musik. Ia tidak lagi mengejar kecantikan lahiriah, melainkan mengasah ketajaman pikiran dan ketenangan batin. Luka di hatinya perlahan mengering, meninggalkan bekas yang membantunya menjadi lebih kuat, bukan lebih lemah.

Ia menjadi seperti bunga teratai yang tumbuh di tengah lumpur. Kelembutannya tetap ada, terpancar dalam senyum tipis dan tatapan penuh pengertian, namun di baliknya tersimpan baja yang tak tergoyahkan. Keindahan yang dulu membuatnya menjadi rebutan, kini dipancarkan dengan cara yang berbeda: keindahan kekuatan, keindahan ketenangan, keindahan balas dendam yang dingin.

Saat kesempatan tiba, Lin Mei tidak menyerang dengan amarah membabi buta. Ia menggunakan kecerdasannya, memanipulasi informasi, dan memanfaatkan kelemahan musuhnya. Ia menciptakan keretakan di antara para pejabat istana, menanamkan benih keraguan di hati Kaisar, dan mengungkap kebusukan di balik topeng kesucian.

Satu per satu, mereka yang dulu mengkhianatinya jatuh ke dalam perangkapnya. Permaisuri baru, yang ternyata haus kekuasaan dan licik, terjerat dalam intriknya sendiri. Kaisar, yang dibutakan oleh ambisi, kehilangan kepercayaan dan dukungan rakyatnya.

Lin Mei tidak menikmati kehancuran mereka. Ia hanya menyaksikan dengan tatapan datar, seolah sedang menonton drama yang sudah ia ketahui akhirnya. Ia tidak ingin membalas dendam karena benci, melainkan karena keadilan. Ia ingin membuktikan bahwa cinta dan kekuasaan bukanlah segalanya. Ada hal yang lebih berharga: harga diri, kebenaran, dan kebebasan.

Di akhir cerita, Lin Mei berdiri tegak di atas reruntuhan istana yang dulunya megah. Kaisar telah turun tahta, permaisuri baru dipenjara, dan kekaisaran berada di ambang perubahan. Lin Mei tidak mengambil tahta. Ia memilih untuk mundur, meninggalkan istana yang penuh kenangan pahit, dan memulai hidup baru.

Ia melangkah keluar dari gerbang istana, mengenakan pakaian sederhana, namun dengan aura yang memancar. Ia tersenyum tipis, menyadari bahwa balas dendamnya telah selesai. Ia tidak lagi mencari cinta atau kekuasaan. Ia telah menemukan rumah di dalam dirinya sendiri.

Dan saat angin menerbangkan rambutnya, Lin Mei tahu, ia akhirnya mengerti: Bahwa mahkota sejati, selalu ada di dalam hatinya.

You Might Also Like: Reseller Skincare Passive Income Kota

Senyum yang Menyembuhkan Luka Lama Lentera-lentera Istana Hang dingin menyinari wajah Li Wei. Lima tahun lalu, wajah itu adalah tawa yang ...

Drama Abiss! Senyum Yang Menyembuhkan Luka Lama Drama Abiss! Senyum Yang Menyembuhkan Luka Lama

Senyum yang Menyembuhkan Luka Lama

Lentera-lentera Istana Hang dingin menyinari wajah Li Wei. Lima tahun lalu, wajah itu adalah tawa yang merekah, mimpi yang bersemi di pelukan Pangeran Zhao, pewaris takhta yang ia cintai dengan segenap jiwa. Kini, wajah itu adalah topeng. Topeng kesunyian.

Li Wei, dulu seorang putri kerajaan kecil yang lemah, kini berdiri tegak di jantung kekuasaan, sebagai selir kesayangan Kaisar. Pernikahannya dengan Kaisar—ayah dari Pangeran Zhao—adalah tebusan untuk menyelamatkan kerajaannya dari kehancuran, sebuah pengkhianatan yang dirancang oleh Pangeran Zhao sendiri demi ambisinya.

Luka itu menganga, menggerogoti jiwanya. Kekuatan yang dulu ia sangkal, kini tumbuh subur di tanah air mata dan pengkhianatan. Ia belajar memainkan permainan istana, mengasah lidahnya menjadi pedang, menyembunyikan kelembutan hatinya di balik lapisan es.

Li Wei, nama itu kini diucapkan dengan hormat, bahkan dengan takut. Kecantikannya memikat, tapi di balik mata seindah danau yang tenang itu, tersembunyi badai yang siap menerjang.

Setiap langkah Li Wei adalah kalkulasi yang dingin. Ia menggunakan pesonanya untuk menaklukkan hati para pejabat penting, mengumpulkan informasi, membangun aliansi tersembunyi. Ia adalah bunga teratai yang tumbuh di medan perang, akar-akarnya menghisap nutrisi dari darah dan air mata.

Pangeran Zhao, kini Kaisar Zhao setelah kematian ayahnya yang misterius, merasakan perubahan pada Li Wei. Wanita yang dulu tunduk dan penurut, kini menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. Ia mencoba memanipulasinya, mengingatkannya pada janji-janji cinta masa lalu, tapi Li Wei hanya tersenyum.

Senyum itu… bukan lagi senyum Li Wei yang dulu. Senyum itu adalah senjata. Senyum yang tak menyiratkan amarah, tapi ketenangan yang MEMATIKAN.

Ia menggunakan informasi yang ia kumpulkan untuk menjatuhkan lawan-lawan politik Kaisar Zhao, satu per satu. Ia menciptakan perpecahan di antara mereka, memanipulasi mereka untuk saling menghancurkan. Ia melakukannya bukan dengan teriakan atau ancaman, tapi dengan bisikan lembut dan sentuhan halus.

Kaisar Zhao mulai panik. Ia melihat kerajaannya, yang ia bangun dengan pengkhianatan dan ambisi, mulai runtuh di sekelilingnya. Ia menuduh Li Wei, mengancamnya, tapi Li Wei hanya tertawa.

"Dulu, aku mencintaimu dengan segenap jiwa," bisiknya, suaranya sedingin es. "Sekarang… aku mencintai negaraku, dan aku akan melakukan apa pun untuk melindunginya… bahkan jika itu berarti menghancurkanmu."

Akhirnya, Kaisar Zhao jatuh. Ia terjerat dalam konspirasi yang ia ciptakan sendiri, dikhianati oleh orang-orang yang ia percayai. Li Wei, berdiri di balkon istana, menyaksikan kejatuhannya dengan tatapan tanpa emosi.

Kaisar Zhao, dalam jeratan rantai dan putus asa, menatap Li Wei. "Mengapa?" tanyanya, suaranya parau.

Li Wei tersenyum, senyum yang sama yang pernah menghancurkannya lima tahun lalu. "Ini… adalah caraku untuk menyembuhkan luka lama," jawabnya, sebelum berbalik dan meninggalkan Kaisar Zhao dalam kegelapan.

Beberapa bulan kemudian, Li Wei, dengan dukungan para pejabat dan jenderal setia, menduduki takhta sebagai Maharani… dan dia baru saja memulai pemerintahannya, mewarisi mahkota yang sebenarnya layak ia kenakan, dengan ketenangan seorang penguasa yang akan abadi.

You Might Also Like: 0895403292432 Diskon Skincare Lokal

Mei Hua. Nama itu dulunya identik dengan tawa renyah dan mata berbinar yang mampu meluluhkan baja. Sekarang, yang tersisa hanya sisa-sisa k...

Harus Baca! Ia Menghapus Semua Kenangan, Tapi Aku Tersisa Dalam Backup Harus Baca! Ia Menghapus Semua Kenangan, Tapi Aku Tersisa Dalam Backup

Mei Hua. Nama itu dulunya identik dengan tawa renyah dan mata berbinar yang mampu meluluhkan baja. Sekarang, yang tersisa hanya sisa-sisa kehangatan itu, terbungkus rapat dalam balutan ketenangan dingin. Ketenangan yang ia paksa diciptakan, setelah hatinya tercabik-cabik oleh intrik istana dan pengkhianatan cinta.

Dulu, ia hanyalah seorang selir kesayangan Kaisar, terbuai janji abadi dan kekuasaan yang gemerlap. Lalu, semua runtuh. Dituduh berkhianat, dicampakkan seperti debu di bawah kaki kekaisaran, dan kenangannya yang dianggap terlalu berbahaya dihapus paksa. Ia dibuang, dilupakan, dianggap lenyap.

Tapi mereka salah.

Mereka menghapus memori, bukan jiwa. Mereka menghancurkan masa lalu, bukan esensi diri.

Mei Hua menemukan dirinya di sebuah desa terpencil, tanpa nama, tanpa identitas. Awalnya, hanya ada kekosongan. Hutan belantara yang luas dalam benaknya. Namun, sedikit demi sedikit, insting bertahan hidupnya kembali. Ia belajar bertani, berdagang, bahkan bela diri dari seorang pertapa misterius yang melihat bara api yang masih menyala dalam dirinya.

Di luar, ia mungkin tampak seperti wanita desa biasa, lembut dan penurut. Tapi di dalam, api dendam membara pelan, sangat terkendali, sehingga nyaris tak terlihat. Ia tidak menginginkan amarah yang membabi buta. Ia menginginkan KETERATURAN yang presisi, seperti seorang ahli bedah yang membedah dengan tenang, tahu persis di mana dan kapan harus menusuk.

Bertahun-tahun berlalu. Mei Hua membangun kembali dirinya. Ia menggunakan keahlian barunya untuk mengakumulasi kekayaan, pengetahuan, dan pengaruh. Ia memanipulasi bidak-bidak catur kekaisaran dari balik layar, menarik benang takdir, memastikan para pengkhianat merasakan buah dari perbuatan mereka. Mantan suaminya, sang Kaisar, perlahan-lahan kehilangan kekuasaannya, tanpa menyadari bahwa wanita yang ia buanglah yang menjadi arsitek kejatuhannya. Para menteri korup yang dulu menuduhnya, jatuh satu per satu, dituduh balik dengan bukti yang tak terbantahkan.

Ia tidak berteriak. Ia tidak mengamuk. Ia hanya MENGHAPUS mereka, satu per satu, dari lembaran sejarah. Dengan senyum tipis di bibirnya, ia menghancurkan kerajaan yang pernah menjadi dunianya. Ia membangun kerajaannya sendiri, terbuat dari keheningan dan kalkulasi.

Di akhir perjalanannya, berdiri di atas reruntuhan yang dulunya adalah istana kekaisaran, Mei Hua memandangi langit yang merah membara. Cahaya senja menyoroti wajahnya, menampakkan guratan luka yang tersembunyi di balik senyum tenangnya. Dendamnya telah terbalaskan. Kekuatannya telah pulih.

Ia mengangkat dagunya, membiarkan angin menerpa rambutnya yang hitam legam.

Kini, ia mengerti bahwa kenangan mereka mungkin telah dihapus, tapi perbuatan mereka telah terukir abadi di hatinya, seperti tato yang tak bisa dihilangkan...

Dan kini, sang Ratu yang Agung, akhirnya siap untuk menulis ulang semua sejarah versinya.

You Might Also Like: Jual Skincare Untuk Ibu Hamil Dan

Tahta yang Bergetar Saat Nama Itu Disebut Di bawah langit Bulan Berdarah , di mana dunia manusia berbatasan dengan Alam Roh, kisah ini dim...

Drama Populer: Tahta Yang Bergetar Saat Nama Itu Disebut Drama Populer: Tahta Yang Bergetar Saat Nama Itu Disebut

Tahta yang Bergetar Saat Nama Itu Disebut

Di bawah langit Bulan Berdarah, di mana dunia manusia berbatasan dengan Alam Roh, kisah ini dimulai. Bukan dengan kelahiran, namun dengan kematian. Xiao Lan, seorang sarjana muda yang berbakat, tewas secara misterius di malam festival lentera. Namun, kematiannya bukanlah akhir. Itu adalah awal dari takdir yang tersembunyi, sebuah perjalanan melintasi dua dunia yang terikat oleh benang takdir.

Xiao Lan terbangun di Alam Roh, sebuah dunia yang berdenyut dengan energi magis. Lentera-lentera bercahaya melayang di atas sungai abadi, memantulkan bayangan yang berbisikkan rahasia. Di sini, dia dikenal sebagai Yue Yin, Putri Bulan, pewaris kekuatan yang dahsyat.

Dunia Roh menyambutnya dengan tangan terbuka, tetapi ingatan tentang kehidupan lamanya terus menghantuinya. Bayangan-bayangan di sudut istana berbicara dengan suara Xiao Lan, meratapi kematiannya dan menuduh pengkhianatan. Bulan sendiri, saksi bisu segala kejadian, seolah MENGINGAT namanya.

Yue Yin segera menyadari bahwa kematian Xiao Lan bukanlah kecelakaan. Ada konspirasi yang lebih dalam, terjalin erat dengan perebutan tahta di Alam Roh. Kaisar Roh yang Agung, ayah Yue Yin, sakit parah, dan perebutan kekuasaan di antara para pangeran dan putri semakin sengit.

Di antara intrik istana dan pertempuran melawan roh-roh jahat, Yue Yin menemukan seorang teman sejati: Pangeran Lian, seorang pejuang yang pendiam namun setia. Matanya, sehangat senja, selalu menemaninya. Lian melatihnya dalam seni bela diri roh, membantunya mengendalikan kekuatannya, dan yang terpenting, membuatnya merasa tidak sendirian.

Namun, di balik senyum manis Pangeran Lian, tersembunyi sesuatu. Bisikan-bisikan bayangan semakin kuat, menuduh Lian sebagai dalang di balik kematian Xiao Lan. Bulan pun seolah memperingatkan, memberikan penglihatan singkat tentang masa lalu yang kelam.

Yue Yin terpecah. Mungkinkah Lian, yang dicintainya dan dipercayainya, mengkhianatinya? Mungkinkah seluruh takdirnya dimanipulasi sejak awal?

Pencarian kebenaran membawanya ke Jantung Kegelapan, sebuah tempat suci terlarang di mana roh-roh kuno menyimpan rahasia tergelap Alam Roh. Di sana, dia menemukan bahwa Lian bukanlah pengkhianat, melainkan korban. Ia terikat oleh kutukan kuno, dipaksa untuk melindungi pewaris sejati tahta – Yue Yin – bahkan jika itu berarti harus mengorbankan segalanya.

Pengkhianat sebenarnya adalah Ibu Suri, wanita yang selalu tersenyum padanya, wanita yang tampak begitu penyayang. Dia adalah dalang di balik kematian Xiao Lan, berusaha untuk mengendalikan tahta Alam Roh melalui putranya, Pangeran Hong.

Pertarungan terakhir terjadi di bawah Bulan Berdarah. Yue Yin, dengan kekuatan penuhnya, menghadapi Ibu Suri dan Pangeran Hong. Lian, meskipun terluka parah, melindunginya dengan segenap jiwanya.

Pada akhirnya, kebenaran terungkap. Ibu Suri dikalahkan, Pangeran Hong menyesali perbuatannya, dan kutukan Lian dipatahkan. Yue Yin, yang sekarang benar-benar memahami takdirnya, naik tahta, berjanji untuk membawa kedamaian dan keadilan bagi Alam Roh dan dunia manusia.

Namun, satu pertanyaan tetap menggantung di udara. Siapakah yang benar-benar mencintai Xiao Lan? Apakah cinta Lian itu tulus, atau hanya bagian dari kutukan? Apakah Ibu Suri benar-benar jahat, atau hanya korban dari masa lalu yang kelam?

Di antara bunga-bunga yang bermekaran di malam yang sunyi, sebuah suara berbisik, "Bayangan tidak pernah berbohong, tetapi ingatan bisa menjadi pengkhianat."

Dan kemudian, keheningan.

Kebenaran tersembunyi di balik tirai Bulan Purnama, dimana janji dan pengkhianatan menari abadi!

You Might Also Like: 197 Kenapa Harus Pelembab Gel Ringan

"Akhirnya kau datang, Xiao Yi," bisiknya, suaranya serak tertelan angin. Xiao Yi berdiri di ambang pintu, bayangannya patah oleh...

Harus Baca! Bayangan Yang Menyimpan Nama Yang Terlarang Harus Baca! Bayangan Yang Menyimpan Nama Yang Terlarang

"Akhirnya kau datang, Xiao Yi," bisiknya, suaranya serak tertelan angin.

Xiao Yi berdiri di ambang pintu, bayangannya patah oleh cahaya lentera yang menipis. Wajahnya, yang dulu begitu ia cintai, kini dipenuhi garis-garis kekhawatiran dan penyesalan. Rambutnya yang dulu hitam legam kini diselingi perak, seperti sungai yang tercemar.

"Shi Lan," sahutnya, suaranya bergetar. "Sudah lama sekali."

Lama? Lima belas tahun lamanya, terukir dalam setiap luka yang tidak pernah sembuh. Lima belas tahun sejak ia mengkhianati cintanya demi ambisi dan kekuasaan. Lima belas tahun sejak Shi Lan kehilangan segalanya.

"Kau pasti berpikir aku sudah melupakanmu," kata Shi Lan, senyum pahit tersungging di bibirnya. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. "Kau salah. Aku mengingatmu setiap hari. Setiap jam. Setiap detik."

Xiao Yi melangkah mendekat. Cahaya lentera menampakkan jelas bekas luka di wajah Shi Lan, sisa dari kebakaran yang "kebetulan" terjadi malam pengkhianatan itu. Rasa bersalah mencengkeram dadanya.

"Aku… aku menyesal, Shi Lan. Aku tahu kata-kata tidak akan bisa memperbaiki apa yang telah kulakukan…"

"Memperbaiki?" Shi Lan tertawa hambar. "Tidak ada yang bisa diperbaiki, Xiao Yi. Semuanya sudah HANCUR! Kau mengambil segalanya dariku."

Hujan semakin deras, menggemakan amarah yang membara dalam diri Shi Lan. Ia berdiri, lentera di tangannya bergetar. Cahaya yang sekarat itu tiba-tiba terasa seperti mata yang menuduh.

"Kau pikir aku akan memaafkanmu? Kau pikir aku akan melupakan semua penderitaanku?" Shi Lan maju selangkah. "Kau salah besar. Aku sudah menunggu saat ini selama lima belas tahun."

Air mata mengalir di pipi Xiao Yi, bercampur dengan air hujan. Ia menunduk, menerima hukuman yang ia yakini pantas ia dapatkan.

"Aku siap menerima apapun hukumanmu, Shi Lan."

Shi Lan mengangkat lentera itu tinggi-tinggi. Cahaya yang tersisa menyoroti wajahnya, menampakkan kegelapan yang selama ini tersembunyi di balik senyumnya.

"Hukumanmu... bukan kematian, Xiao Yi. Hukumanmu adalah menyaksikan kerajaanku bangkit dari abu, dibangun di atas kejatuhanmu."

Xiao Yi mengangkat kepalanya, terkejut. "Kerajaanmu?"

Shi Lan tersenyum. Senyum yang dingin dan menakutkan.

"Ya, Xiao Yi. Kau tahu... nama keluargaku yang sebenarnya... bukan Shi. Itu adalah..."

Dan saat itu, di tengah gemuruh hujan dan cahaya lentera yang akhirnya padam, terungkaplah sebuah rahasia yang akan mengubah segalanya: 'Bayangan yang menyimpan nama yang terlarang' sebenarnya adalah keturunan terakhir dari dinasti yang kau rebut dengan darah dan pengkhianatan, Xiao Yi!

You Might Also Like: Jualan Kosmetik Peluang Usaha Ibu Rumah

Senja Merah di Tepian Sungai Wangi Hujan menggigil, persis seperti kenangan yang menusuk-nusuk tulangku setiap kali senja datang. Di tepi ...

Cerpen Seru: Tangisan Yang Menjadi Rindu Palsu Cerpen Seru: Tangisan Yang Menjadi Rindu Palsu

Senja Merah di Tepian Sungai Wangi

Hujan menggigil, persis seperti kenangan yang menusuk-nusuk tulangku setiap kali senja datang. Di tepi Sungai Wangi, aku berdiri, menatap riak air yang beriak-riak, membawa serta bayangan patah diriku. Di seberang sana, sebuah lentera menggantung di gerbang rumah besar milik keluarga Li – cahayanya nyaris padam, seolah tak sanggup lagi menahan beban malam.

Dulu, aku dan Lian Er sering bermain di tepi sungai ini. Kami berjanji, di bawah rindangnya pohon willow, bahwa cinta kami abadi, sekuat batu karang. Namun, batu karang pun bisa hancur diterjang ombak. Lian Er memilih tahta dan kekayaan, menikahi putri keluarga Zhang, dan meninggalkanku dalam gelap yang mematikan.

Lima tahun sudah berlalu. Lima tahun aku menahan sakit, lima tahun aku menyaksikan dia berbahagia di atas puing-puing hatiku. Setiap kali matanya bertemu mataku dalam pertemuan bisnis keluarga, aku melihat sedikit penyesalan, atau mungkin hanya pantulan dari rasa bersalah yang tak berarti.

"Lama tidak bertemu, Mei Hua," sapanya suatu sore, suaranya selembut sutra, tapi tajam seperti pisau.

Aku tersenyum dingin. "Lian Er Gege, apa kabarmu? Kudengar pernikahanmu bahagia."

"Bahagia?" Ia tertawa hambar. "Kebahagiaan adalah ilusi, Mei Hua. Sama seperti janjimu dulu."

Aku hanya mengangkat bahu. "Janji dibuat untuk dilanggar, bukankah begitu?"

Semakin hari, bayangan masa lalu semakin pekat. Aku sering melihat Lian Er termenung di taman, matanya kosong. Ia tampak seperti boneka yang kehilangan kendali, terperangkap dalam jaring yang ia buat sendiri.

Kemudian, aku mulai bertindak. Aku menyebarkan desas-desus tentang bisnis keluarga Li yang merugi, tentang perselingkuhan putri Zhang, tentang perjanjian rahasia yang merugikan keluarga Zhang. Aku memainkan bidak-bidak catur, dengan Lian Er sebagai pion yang paling rentan.

Satu malam, di tengah badai yang menggila, Lian Er datang menemuiku. Wajahnya pucat, matanya merah.

"Kau! Kau yang melakukan ini, bukan?" teriaknya.

Aku hanya tersenyum, di bawah cahaya rembulan yang mengintip di balik awan. "Mengapa kau begitu terkejut, Lian Er? Bukankah pengkhianatan dibalas dengan pengkhianatan?"

Ia terdiam, lalu berlutut di hadapanku. "Maafkan aku, Mei Hua! Aku... aku mencintaimu."

Air mataku mengalir. Bukan air mata penyesalan, bukan pula air mata kebahagiaan. Ini adalah air mata kemenangan. Air mata PALSUMU!

Aku membantunya berdiri, menyeka air matanya dengan lembut. "Dulu, mungkin aku percaya padamu. Tapi sekarang... sekarang aku hanya melihat seorang pria yang kehilangan segalanya."

Aku memeluknya, erat. Di balik pelukan itu, aku merasakannya. Denyut nadinya melambat, tubuhnya melemah. Racun itu bekerja dengan sempurna.

Ia terjatuh ke tanah, matanya menatapku dengan tatapan kosong. Aku berbisik di telinganya, "Selamat jalan, Lian Er. Semoga kau menemukan kedamaian yang tidak akan pernah kurasakan."

Aku meninggalkannya di tepi Sungai Wangi, di bawah guyuran hujan yang tak henti-hentinya. Cahaya lentera di gerbang rumah besar itu padam.

Dan saat fajar menyingsing, aku menyadari bahwa semua ini, semua yang terjadi, hanyalah permulaan. Aku masih harus menyingkap kebenaran tentang malam itu… tentang siapa yang membunuh ayahku.

You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Modal Kecil

Malam Terakhir: Sebuah Sonata yang Terlupakan Kabut sungai membungkus Kota Terlarang, seputih kenangan yang mulai pudar. Di bawah rembulan...

Wajib Baca! Kau Menatapku Di Malam Terakhir, Dan Aku Tahu Itu Selamat Tinggal Wajib Baca! Kau Menatapku Di Malam Terakhir, Dan Aku Tahu Itu Selamat Tinggal

Malam Terakhir: Sebuah Sonata yang Terlupakan

Kabut sungai membungkus Kota Terlarang, seputih kenangan yang mulai pudar. Di bawah rembulan yang mengiris langit bagai pedang perak, aku melihatmu. Siluetmu remuk di antara lentera-lentera merah yang bergelayutan seperti jantung-jantung yang berdetak terakhir.

Matahari telah lama tenggelam di balik cakrawala, namun tatapanmu membakar lebih terang dari seribu lilin istana. Kau menatapku di malam terakhir, dan aku tahu itu selamat tinggal. Bukan perpisahan yang diucapkan dengan kata-kata, melainkan bisikan jiwa yang meretas hening malam.

Wajahmu, sebuah lukisan dari mimpi yang tak pernah menjadi nyata. Bibirmu, dua kelopak mawar yang tak pernah sempat merekah sempurna. Senyummu, janji yang tertinggal di musim semi yang telah berlalu.

Dulu, di taman terlarang yang dipenuhi bunga plum—bunga yang rapuh seperti hati kita—kau berjanji akan menungguku. Janji yang terukir di pasir waktu, terhapus oleh ombak takdir yang kejam. Aku percaya padamu, sepercaya embun pada mentari pagi. Tapi, matahari itu tak pernah terbit untukku.

Kita bertemu di persimpangan waktu, dua ruh yang tersesat di labirin takdir. Cinta kita adalah melodi yang terputus, simfoni yang tak pernah selesai dimainkan. Sebuah lukisan cat air yang luntur oleh air mata.

Kau adalah ilusi terindah yang pernah kurasakan. Sentuhanmu bagai sutra yang menyentuh kulit, namun menghilang secepat mimpi di pagi hari. Setiap detik bersamamu adalah hadiah yang terlarang, curian dari langit yang murka.

Namun, di malam terakhir itu, ada sesuatu yang berbeda. Ada kebenaran yang tersembunyi di balik topeng kepura-puraanmu. Kau adalah seorang putri dari kerajaan yang jatuh, dijodohkan dengan seorang jenderal kejam demi menjaga perdamaian yang rapuh. Cinta kita adalah pengkhianatan, sebuah dosa yang tak terampuni.

Dan kemudian, sebuah pengungkapan: air mata jatuh dari matamu, bukan untukku, melainkan untuk kebebasan yang tak pernah kau miliki. Aku hanyalah bayangan, pengganti sementara bagi cinta yang sebenarnya, cinta pada dirimu sendiri. Itu adalah malam terakhir.

Malam itu, aku mengerti. Cinta kita adalah mimpi di dalam mimpi, ilusi di dalam ilusi. Kita hanyalah pion dalam permainan para dewa. Tapi, keindahan mimpi itu, meskipun palsu, tetap saja menyayat hatiku lebih dalam dari pedang manapun.

Apakah aku benar-benar mencintaimu, ataukah aku hanya mencintai ide tentangmu? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, di malam terakhir itu, saat kau menatapku dengan mata yang penuh penyesalan, sebagian dari diriku mati bersamamu.

Angin malam membawa bisikan... apakah kau masih mengingatku?

You Might Also Like: Is This Command Grammatically Correct